Selama bulan Juli 2013 sebuah produksi film pendek diinisiasi oleh Jurusan Sosiologi. Film dengan tajuk Harmoni Sidoasri itu berisikan tentang potensi yang dimiliki oleh sebuah desa yang berada di ujung selatan Kabupaten Malang. Meskipun jauh dari pusat Kota Malang, maupun pusat Kabupaten Malang (Kepanjen), desa ini mampu menghidupi diri dengan berbagai macam potensinya.

Suasana guyub mewarnai desa yang berdekatan dengan laut selatan ini. Terdapat komunitas Kristen Jawi Wetan, Katolik, dan Islam yang hidup berdampingan. Penduduknya pun hidup dengan menggantungkan diri pada potensi agraris. Mereka rata-rata bekerja sebagai petani sawah, maupun buruh perkebunan, baik sebagai pemetik pemetik cengkeh maupun pisang. Namun demikian, kondisi akses jalan yang memprihatinkan, potensi-potensi di atas bisa jadi hanya akan menguap begitu saja. Oleh karena itu, sibutuhkan sebuah stimulasi yang dapat menggerakkan dan menggunggah semua stakeholder; pemerintah, swasta, maupun perguruan tinggi untuk memperhatikan wilayah-wilayah yang secara geografis relatif jauh dari pusat pemerintahan. Maka, sebagai terobosan, Jurusan Sosiologi menginisiasi untuk memproduksi sebuah film pendek yang bertujuan untuk mengangkat potensi Desa Sidoasri.

15 buat film3

Proses produksi film Harmoni Sidoasri dengan subyek buruh petik cengkeh

buat film1

Proses pengambilan gambar siswa sekolah dasar

Kegiatan ini melibatkan beberapa dosen dan mahasiswa Sosiologi. Dengan bidang keahlian masing-masing, mereka berbagi tugas dalam tim; mulai dari pra produski berupa riset, produksi berupa pengambilan gambar dan penyuntingan, hingga pasca produksi berupa screening film. Aktivitas ini merupakan satu rangkaian dari program pengabdian masyarakat Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. (la)

link teaser film  Harmoni Sidoasri 

PENGUMUMAN

BERIKUT ADALAH DAFTAR PENGUJI UJIAN SEMINAR PROPOSAL MAHASISWA ANGKATAN 2015

klik disini: penguji sempro angkatan 2015 – Page 2

Berikut ini beberapa pengumuman bagi mahasiswa Sosiologi UB yang akan menyelenggarakan seminar proposal skripsi:

  1. Seminar Proposal Skripsi dengan Sistem Desk Evaluation berlaku bagi mahasiswa Prodi S1 Sosiologi angkatan 2011-2014
  2. Pengumpulan Proposal ke Admin Jurusan pada 10-19 Desember 2018
  3. Proposal harus mendapat persetujuan seluruh Dosen Pembimbing untuk mengikuti Seminar Proposal Desk Evaluation
  4. Berkas yang harus dikumpulkan yaitu:
  • Proposal (Bab 1-3)
  • Berita Acara yang ditanda tangani oleh kedua Dosen Pembimbing (Jika Dosen Pembimbing hanya 1 orang, diberi keterangan di form berita acara)
  • Surat Pengunduran Diri bagi mahasiswa angkatan 2011-2013 (form bisa diambil di Admin Jurusan) lengkap dengan materai 6000 dan tanggal dikosongi
  • Berkas yang harus dikumpulkan adalah Transkrip Nilai/KHS mulai semester 1.
  1. Seleksi Berkas dan Proses Desk Evaluation 20-27 Desember 2018
  2. Pengumuman hasil Desk Evaluation 28 Desember 2018

Demikian pengumuman tersebut. Atas perhatiannya, terima kasih.

 

Diumumkan kepada mahasiswa Prodi S1 Sosiologi UB angkatan 2016 akan dilaksanakan acara Sosialisasi Seminar Proposal Skripsi. Acara ini akan dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal  : Senin/ 17 Desember 2018

Pukul                 : 09.00 WIB – Selesai

Tempat              : Auditorium Nuswantara.

Demikian pengumuman ini disampaikan. Atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

Jurusan Sosiologi UB telah sukses menggelar konferensi internasional yang pertama bertajuk International Conference of Inequalities, Social Justice and Democracy 2018. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, 26 November 2019 pukul 08.00-17.00 WIB di Guest House UB. Beberapa pembicara utama antara lain; Dr. Richard Chauvel, Melbourne University, Australia; Ana Luisa Campanha Nakamoto, Ph.D candidate, Sao Paulo University, Brazil; Prof Dr. Keppi Sukesi, MS, Pusat Studi Wanita Universitas Brawijaya; M. Taufiq, M.AP, Widyaiswara Ahli Madya Badan Diklat Provinsi Jatim.

Cara pertama dibuka oleh sambutan ketua Jurusan Sosiologi Anif Fatma Chawa, Ph.D. Lalu dilanjutkan ceramah dari pembicara utama Anna Luisa Campanha Nakamoto dan Keppi Sukesi. Dalam kesempatan itu, Anna Nakamoto menjelaskan bagaimana perjuangan di Brazil untuk memperjuangkan hak LGBT dan demokrasi disana. “Global level, namely sustainable development goals (SDGs) as the following up of th millennium development. To achieve the equality, it is needed to draw inclusive groups being an exclusive one. Inequality or equality is not only seeing about variation between sexe and gender. But also requiring attention to the other variants, for instance exclusivity or inclusivity”, terangnya.

Sedangkan Keppi Sukessi, menjelaskan tentang GESI (Gender Equality and Social Inclusion) sebagai pendekatan dalam analisis gender.“GESI as an approach means, analyzing the process of social contrucsion based on gender inequality and justice of women and child. Priority issues : Economy, Education, Health, Politics. The others areas of focus are education and alleviating poverty, politics, environment and natural resource”, jelasnya.

Sesi berikutnya diisi oleh Richard Chauvel dan Muhammad Taufiq. Chauvel menjelaskan tentang ketimpangan sosial ekonomi dapat memicu konflik di Papua. Papua dan Papua Barat merupakan paradox kekayaan SDA namun memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Menurut PDRB per kapita, Papua Barat dan Papua adalah provinsi terkaya ke 5 dan ke 6, tetapi menurut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan provinsi termiskin. Ketidaksamaan antara Papua dan Papua Barat sangat terlihat jelas, tetapi ketidaksamaan hanya menjadi salah satu fakta dalam analisa konflik di Papua.

Dalam menganalisis persoalan ketimpangan di Papua ada dimensi etnis pada ketidaksamarataan diantara wilayah pegunungan dan perkotaan. Mayoritas penduduk asli orang Papua tinggal di pegunungan relatif miskin, sedangkan daerah perkotaan yang relatif lebih sejahtera. Ketimpangan ini menjadi penting dalam analisa karena mempengaruhi fakta yang lain. Transformasi demografis ini menciptakan perlawanan pada pemerintah Indonesia dan membuat nasionalisme Papua sebagai nasionalisme etnis.  Di papua ketidaksamarataan tersebut sangat nampak dan berimplikasi politik sebab dimensi etnis.

Selanjutnya, Muchammad Taufiq menjelaskan tentang makalah berjudul “Penguatan Peran Serta Masyarakat Dalam Penerapan Otonomi Daerah”. Diawali dari penjelaskan dinamika perjalanan dan perubahan pemerintahan ketika Orde lama (1945-1966), Orde Baru ( 1966-1999), Reformasi (1999-2004) dan transisi (2004-2014) serta Pembaruan (2014-2018). Dia menjelaskan dinamika tata kelola Otonomi Daerah dari waktu ke waktu. Terdapat banyak perbaikan dalam proses pemerintahan di beberapa daerah, meski tak dapat dipungkiri masih ada masalah besar berupa korupsi pejabat daerah.

Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi diskusi dalam beberapa sesi panel berbeda, seperti panel Community Development, Social Exclusion, dan Culture and Social Identity. Pemakalah menyajikan dan mendiskusikan hasil riset di hadapan peserta. Diskusi tampak hidup di antara para peserta. Masukan dan kritikan atas makalah tersebut sedianya akan diterbitkan dalam buku

Situasi diskusi salah satu panel dalam ISJD

 

Sebagai bagian dari pengenalan atmosfer akademik bagi mahasiswa baru angkatan 2018, Jurusan Sosiologi UB bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasigi) menggelar Research Day 2018. Acara berlangusng meriah melibatkan seluruh keluarga besar Sosiologi UB, baik sebagai pemateri hingga panitia, dari jenjang S1 hingga S3. Acara tersebut berlangsung pada 24 November 2018 di aula Nuswantara, FISIP UB. Meskipun merupakan acara ilmiah, namun Research Day dikemas secara santai, namun serius. Seringkali para pemateri dibantu pemandu acara membuat penonton tergelak tawa.

Alumni Sosiologi UB, dari kiri ke kanan: Nauval Fikri, S.Sos, Dano Purba, M.Si, Monica (MC), dan Dr. Dewa Agung Gede Agung.

Dalam acara ini, sekitar 150 orang mahasiswa baru Jurusan Sosiologi dari berbagai jenjang, menyaksikan beragam acara yang terbagi menjadi beberapa sesi. Pada acara tersebut terbagi dalam tiga sesi; pembukaan, kuliah tamu oleh alumni Sosiolog, presentasi Rerearch group dosen, berbagi pengalaman skripsi dan KKN, bedah foto, dan bedah film. Seluruh mata acara sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi, yang berasal dari kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengajaran. Acara ditutup dengan penampilan Socikoclogy, yang juga melakukan reuni, karena memang band tersebut pertama kali tampil di acara yang sama pada 2013 lalu.

PENGUMUMAN

BAGI MAHASISWA YANG AKAN MELAKSANAKAN UJIAN KOMPREHENSIF PERIODE BULAN NOVEMBER 2018 MOHON AGAR MENYERAHKAN UNDANGAN DISERTAI DENGAN DRAFT SKRIPSI SEBANYAK 4 RANGKAP UNTUK MAJELIS SKRIPSI.

TERIMA KASIH

Jurusan Sosiologi UB kembali menggelar seminar nasional bertajuk Politik dan Sejarah Budaya Indonesia pada 21 November 2018 lalu bertempat di ruang pertemuan Perpustakaan Pusat UB. Pada kesempatan itu, hadir tiga orang pembicara utama; R.T. Soedarno Hadipuro, seorang pegiat budaya Jawa. Indhar Wahyu Wira Harjo, dosen dan peneliti kebudayaan Jawa dari Sosiologi UB, dan Richard Chauvel, sejarawan dan Indonesianis dari Melbourne University.

Judul seminar tersebut diambil karena didasari bahwa kebudayaan itu tidak netral. Ada banyak kepentingan yang melekat kepadanya. Maka kebudayaan harus dipandang sebagai sesuatu yang melekat dengan kepentingan para aktor di dalamnya.

Pada kesempatan tersebut, Soedarno mencontohkan dengan menggunakan produk kebudayaan artefak, berupa keris. Sejarah keris di Nusantara dimulai pada abad ke 5 menyebarnya di relief candi. Pada abad ke 8, keris menjadi senjata vital, namun dalam perkembangannya berubah menjadi atribut budaya dan tradisi yang mengandung  nilai-nilai mistik dan seni. Kemudian saat ini keris dijadikan cinderamata, dan masih banyak pula digunakan untuk acara tradisi.

Penyebaran keris tersebar hingga ke Asia tenggara. Di berbagai daerah Indonesia terdapat keris dengan sebutan lain, namun persebaran keris berhenti di Lombok, lalu mengarah ke arah timur sudah tidak ada keris. Posisi keris di jaman dulu mampu menggantikan posisi pria yang berhalangan hadir, pada saat pernikahan. Pada jaman sekarang, karena batu meteorit sudah jarang ditemukan hingga kemudian diganti menggunakan nikel sebagai bahan baku pembuatan. Proses pembuatan keris dihasilkan dengan proses yang rumit dan memakan waktu yang cukup lama, Sumenep Madura diakui menjadi kota keris Indonesia.

Sedangkan Indhar Wahyu menjelaskan hasil penelitiannya terkait Serat Centhini. Penelitiannya bertujuan untuk membongkar pesan tersembunyi dalam Serat Centhini, yang selama ini hanya dikenal sebagai kitab Kamasutra versi Jawa. Padahal, teks Serta centhini merupakan kumpulan pengetahuan yang sangat kompleks. di dalamnya tertulis pengetahuan yang beredar di seluruh penjuru pulau jawa, yang penulisannya diselesaikan pada tahun 1814. Pengetahuan tersebut diperoleh dari 3 daerah bagian dengan setebal 12 jilid dengan kira-kira jumlah 4.200 halaman dalam penelitian 9 tahun yang menghabiskan 10.000 ringgit.

Melalui hasil penelitiannya, Indhar Wahyu menemukan bahwa Serat Centhini menempatkan laki-laki lebih unggul dari pada perempuan dalam konteks keluarga. Selain itu juga dalam konteks sosial, laki-laki memegang peranan paling penting sebagai raja, guru dan pendidik. Perempuan diasumsikan didik oleh laki-laki. Di lain pihak, teks ini memiliki paradoks, bahwa serat ini juga mengunggulkan perempuan, seperti cerita penolakan tokoh Niken Tambangraras yang melakukan penolakan lamaran-alamaran yang datang berdasarkan aspek pengetahuan spiritualnya.

Dari kiri ke kanan: R.T. Soedarno Hadipuro, Richard Chauvel, dan Indhar Wahyu Wira Harjo.

Pada kesempatan terakhir Dr. Richard Chauvel mendedahkan naskah berjudul Decentralising Culture and Identity in Reformasi Indonesia. Dia menjelakan bahwa politik berelasi dengan budaya. Sedangkan, budaya merupakan konstruksi sosial. Di saat yang sama terdapat peran pemerintah provinsi dan kabupaten atau kota dalam mengidentifikasi daerahnya dalam budaya. Otonomi daerah memberi peluang setiap daerah mempromosikan dan menentukan identitas budaya daerahnya. Dalam perkembangannya, semua kebijakan hingga Orde Baru berusaha membuat hal-hal  yang cenderung menyamaratakan beberapa hal meskipun terdapat prularisme budaya di Indonesia.

Peran kebudayaan Jawa sangat dominan dalam pembangunan bangsa Indonesia, namun pada millennium ke 3 kebudayaan Jawa mulai dipinggirkan dan generasi penerusnya mulai berpaling karena dianggap ketinggalan zaman. Saat inipun, terdapat banyak daerah yang mulai mempertanyakan budaya lokal dan identitas kebudayaan sendiri, seperti Riau, Nias, Bugis, juga Papua. Ini merupakan konsekuensi dari kebijakan Orde Baru selama tiga dekade yang cenderung melakukan penyeragaman kebudayaan.

Dalam implementasi UU No. 6 tentang Desa, terutama terkait dengan tugas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa) diperlukan berbagai model, konsep dan strategi intervensi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pelaksanaan berbagai dimensi dalam undang-undang desa. Banyak pihak sebagai knowledge producers, seperti perguruan tinggi yang telah menghasilkan model, konsep dan strategi intervensi sosial untuk mengatasi permasalahan di perdesaan. Namun knowledge products tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut sebelum diimplementasi dalam skala luas sebagai sebuah kebijakan. Terkait dengan hal tersebut diperlukan adanya Laboratorium Sosial (Labsos) pembangunan perdesaan sebagai media penguji-implementasian model/konsep/strategi intervensi sosial dan inovasi teknologi, dan percontohan pemberdayaan masyarakat perdesaan. Dalam hal ini Labsos berupa satu kesatuan wilayah, baik skala desa maupun kawasan.

Untuk itu, pihak Kemendesa mengadakan kunjungan ke Jurusan Sosiologi UB pada 15 Nobember 2018. Tujuan acara ini adalah menjajaki perintisan didirikannya Labsos terpadu antara Sosiologi UB dan Kemendesa. Sosiologi UB dipilih karena memang departemen ini memiliki fokus dalam mendampingi desa dalam aktivitas pembangunan. Tercatat beberapa kegiatan Tri Dharma perguruang tinggi dilaksanakan secara terpadu, seperti penelitian praktikum dan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Pada awalnya tata kelola Laboratorium Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya disatukan dengan Laboratorium Terpadu (Lab Terpadu). Lab Terpadu merupakan gabungan dari lima program studi yang ada di FISIP. Namun setelah terdapat peraturan baru, khususnya Lab. Sosiologi dikembalikan lagi di bawah naungan program studi.  Pada Lab. Sosiologi terdapat enam fokus penelitian atau biasa disebut dengan istilah research group. Enam fokus penelitian tersebut terdiri dari Eksklusi Sosial dan Marginalitas, Media, Rekayasa Budaya, Lingkungan dan Bencana, Pengembangan Masyarakat, Kelembagaan. Pemilihan lokasi yang hendak dilakukan suatu penelitian ditentukan oleh program studi dan difokuskan pada daerah Malang Raya. Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Lab. Sosiologi berawal dari tahapan kegiatan praktikum hingga KKN. Tahapan-tahapan tersebut pada akhirnya mendorong suatu desa yang sebelumnya telah dijadikan tempat praktikum dan KKN menjadi suatu desa binaan. Desa binaan yang telah dirintis oleh Lab. Sosiologi berjumlah 6 yaitu Desa Sidoasri, Desa Sumber Dem, Desa Sumbersuko, Desa Plumbangan, UB Forest dan Desa Brongkal.

Pengembangan Labsos diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam mengoperasionalkan pendekatan desa membangun dalam pembangunan desa melalui inovasi kebijakan dan program-program pemberdayaan masyarakat yang lebih efektif, efisien dan produktif.

Program Studi (Prodi) S1 Jurusan Sosiologi FISIP UB adalah salah satu Prodi yang menerapkan sistem praktikum dalam proses pendidikan. Di setiap semester di program studi tersebut memiliki mata kuliah berpraktikum yakni Sociological Academic Skill (SAS) di semester 1, Struktur Pranata Sosial dan Perubahan Sosial di semester 2, Sosiologi Desa-kota dan Metode Penelitian Sosial di semester 3, Metode Penelitian Kuantitatif dan Sinematografi Sosial di semester 4, Metode Penelitian Kualitatif; Masyarakat, Budaya dan Bencana; Community Development di semester 5, serta Social Impact Assesment (SIA) dan Manajemen Riset Terapan (MRT) di semester 6.

Menyikapi hal tersebut, maka pengembangan terhadap kurikulum menjadi sesuatu yang sangat penting sifatnya. Melekat dalam hal itu adalah pengembangan terkait program-program praktikumnya. Oleh karena itu, Prodi S1 Sosiologi mengadakan workshop praktikum dalam rangka menyiapkan dan menata prosedur praktikum yang berisi tentang kaidah, aturan, instrumen yang dapat membantu mahasiswa dalam menjalankan kegiatan praktikum pada 9-10 November 2018 di Hotel Shalimar Malang. Dalam acara tersebut diundang pula sebagai pemateri utama Mahmudi Siwi, SP., M.Si dari IPB. Workshop praktikum ini juga diharapkan mampu menghasilkan suatu panduan dalam praktikum yakni modul praktikum di setiap mata kuliah.

Jurusan Sosiologi mengadakan acara International Conference of Inequalities, Social Justice, & Democracy. Untuk informasi pendaftaran bisa dibuka melalui http://isjd.fisip.ub.ac.id/ dan berikut poster acaranya: