Sosiologi Universitas Brawijaya

"Education for Enlightening and Be The Best"

Bedah Buku Modal Sosial oleh Prof. Sunyoto Usman

10 - 01 - 2015 Sosiologi UB Berita, Headline, Kegiatan

Isu tentang modal sosial merupakan isu yang cukup lama berkembang dan menjadi isu yang menarik untuk dibahas, sebab dalam analisis sosiologis pada masa sekarang ia menjadi isu yang dinamis untuk dibahas kembali dengan sumbangsih dari Bordieu dan Coleman dalam konteks penelitian sosial dan pembangunan di Indonesia. Diharapkan juga kuliah modal sosial ini dapat berkontribusi untuk perkembangan kajian di jurusan Sosiologi UB.

Buku modal sosial yang berbahasa Indonesia sangat sedikit sekali. Kebiasaan saya saat kuliah memberikan tulisan 4-5 halaman membiasakan saya untuk menulis. Di Korea, buku berbahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Di Indonesia justru berkebalikkannya. Kegiatan kampus terlalu habis dengan kegiatan birokrasi kampus dan membuat pengetahuan sosiologis menjadi berkurang. Topik modal sosial bersifat lintas disiplin, termasuk kesehatan masyarakat, politik dan ilmu sosial lain. Jika kita petakan, jenis-jenis modal itu banyak: ada modal fisik (mis: hutan, lautan, rumah, bangunan); modal finansial (mis: jumlah tabungan di bank); modal manusia (mis: ketrampilan, tingkat pendidikan. Sulit dihitung, hanya dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator tertentu). Berbeda dengan modal sosial, sifatnya tidak kelihatan, ia baru muncul jika ada satu orang yang berhubungan dengan orang lain. Ilustrasi yang sederhana: pedagang angkringan di kampung miskin sungai Code, Yogyakarta. Ada satu rumah yang dihuni oleh 24 orang yang berasal dari pedesaan daerah Klaten untuk menjadi pemasok makanan angkringan dengn sistem konsinyasi, yang artinya makanan yang dijual baru diabayar kepada pemasok jika makanan sudah laku. Rumah tersebut setiap hari para pedagang angkringan mengambil makanan untuk dijual, dan bertahan sampai sekarang (bahkan ketika krisis ekonomi tahun 1998). Secara sosiologis dapat dikatakan bahwa di sana ada trust (kepercayaan), reprocity (saling menguntungkan) dan jaringan sosial. Hal ini yang disebut sebagai modal sosial.

 

Para peserta acara bedah buku.

Para peserta acara bedah buku.

Dewasa ini teori-teori modal sosial sudah berkembang jauh. Ada kompleksitas yang lebih tinggi. Teori modal sosial sudah terdapat pada kelompok, organisasi, komunitas dan masyarakat yang lebih luas. Contohnya keberhasilan belajar juga ditentukan oleh relasi sosial. Modal dalam hal ini adalah resources, bukan sekedar dimiliki. Jika kita punya sepeda motor dan hanya dipakai pas malam minggu, itu hanya disebut sebagai asset, jika sepeda motor digunakan sebagai kegiatan yang produktif (mis: ojek) maka akan menjadi resources, karena kaitannya dengan kehidupan sosial dan mendorong perubahan. Modal sosial menekankan rasa nyaman dana man melalui kebersamaan, media untuk menyampaikan harapan (stimulant) dab membangun tanggapan (respon) bedasarkan tindakan rasional, tanggung jawab secara kolektif. Di dalam rasa saling menguntungkan maka akan ada rasa saling terikat dan sifatnya resiprokal, tidak harus bersfiat material namun juga sosial, misalnya atensi.

 

Social capital adalah bagian dari public goods. Keberadaannya terkait dengan oang lain secara bersama-sama. Semakin banyak orang yang terlibat semakin banyak orang yang memiliki credit slip, maju dan berkembang bersama orang lain. Misal: wacana penggusuran Malioboro yang dihadapkan oleh dengan isu modal sosial, termasuk jaringan preman, aparat, pedagang. Begitu juga dengan konteks birokrasi setelah pilkada.