Bedah Buku Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia

Remy Limpach, seorang peneliti dari Swiss menerbitkan buku tentang kekerasan yang dilakukan oleh serdadu-serdadu Belanda di Indonesia pada medio 1945-1949. Buku yang berjudul Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia itu dibedah pada pada 7 Oktober 2019, di ruang sidang lantai 7 Gedung B, FISIP, UB. Dengan dimoderatori oleh Astrida F. Nuraini dari Sosiologi UB, dengan pembahas Desi D. Prianti, diskusi berjalan dengan meriah. Para peniliti dan mahasiswa yang mengikuti acara terlihat antusias sepanjang acara.

Remy Limpach menjelaskan secara gamblang bagaimana kekerasan itu dijalankan. Temuan Limpach menyanggah bahwa tindakan yang dilakukan oleh serdadu Belanda di bawah komando Jenderal Spoor dianggap tepat oleh Pemerintah Belanda sejak 1969. Temuannya menunjukkan justru sebaliknya, bahwa tentara Belanda melakukan aksi-aksi ekstrem, seperti pembunuhan, penyiksaan, hingga pembakaran desa-desa bukan sekedar sebagai strategi perang. Aksi para serdadu terhadap masyarakat sipil tersebut justru dijalankan secara struktural, yang disetujui oleh elit tentara. Aksi ini, dikatakan oleh Limpach disebabkan oleh mentalitas struktural yang mendarah daging pada serdadu Belanda.

Astrida F. Nuaraini (kiri), REmy Limpach, dan Desi D. Prianti dalam acara bedah buku kemarin.

Temuan riset Limpach ini  secara nyata membuka mata dunia terkait kolonialisme dan sejarah perang. Bagi ilmuwan sosial, hasil risetnya mampu membuka cakrawala bagaimana kekerasan dijalankan, dan sejarah militer dilanggengkan.